Wisata Kuliner untuk Bocah

nasi madame tan
Nasi campur Madame Tan

Memangnya anak-anak juga butuh wisata kuliner khusus? Nggak harus sih. Tapi menurut saya anak-anak juga punya hak menyantap makanan sehat sesuai porsinya sambil menikmati suasana tempat makan yang nyaman bagi bocah seumurannya.

Kami juga baru menyadari pentingnya mencari tempat makan yang kids-friendly ketika Bindi berusia sekitar 1 tahun. Saat itu kami sedang berlibur ke Makassar. Selama di Makassar pengin dong wisata kulineran. Sederet daftar warung makan khas sudah ada dalam catatan saya. Sarapan coto, makan konro Karebosi, Mie Titi, dinner sop kepala ikan Mappanyukki, ikan bakar Lae Lae, dan sederet lainnya.

Kebetulan saya sudah beberapa kali mengunjungi Makassar dan relatif mengenal warung-warung kuliner khas yang juara. Kadang-kadang saya membawa pulang konro atau sop kepala ikan Mappanyukki ke Jogja, buat oleh-oleh yang di rumah. Maka ketika berkesempatan family trip bersama anak wedok dan Bapaknya, wajar kan jika ingin mengajaknya bersantap langsung di lokasi aslinya.

Continue reading “Wisata Kuliner untuk Bocah”

Advertisements

kuliner nusantara

Baby Bindi terlelap di Bali Zoo resto

Kalo lagi plesiran sama Baby Bindi, saya dan Edo nyaris nggak pernah makan bersama dalam satu meja. Makannya musti bergantian. Kalo saya yang duluan makan, berarti Edo yang jagain Bindi, biasanya diajak jalan-jalan. Begitu saya selesai makan, gantian saya ambil alih Bindi. Kalau kebetulan waktu makan kami bersamaan dengan waktu makannya Bindi, seringnya pas makan siang,  barulah kami bisa duduk semeja bertiga. Saya nyuapin Bindi duluan dan Edo makan menunya. Begitu Edo dan Bindi selesai makan, mereka jalan-jalan sementara saya gantian yang menyantap makanan.

Terkecuali kalo ngepasin jam makan, Baby Bindi lagi tertidur. Ini kesempatan emas yang nggak kami sia-siakan untuk menikmati menu pilihan yang mak-nyus. Mumpung si kecil lagi terlelap, emak dan bapaknya puas-puasin makan yang enak-enak. Hehe…!

Demi kenyamanan Baby Bindi yang terpaksa nungguin emak dan bapaknya gantian makan, kami suka pilih-pilih tempat makan. Sokur-sokur yang ada garden dan kolam ikan, jadi Bindi bisa enjoy main-main selagi kami gantian makan. Apes-apesnya kami pilih makan di mall yang adem dan enak buat strolling juga. Kalo sudah begini, soal pilihan menu jadi nomor dua. Sing penting wareg, nggak perlu kuliner-kulineran deh.
Tapi sesekali pernah juga kami ‘maksa’ Bindi wisata kuliner nusantara. Waktu di Makassar, saya ajakin Edo makan Konro Karebosi dan ikan bakar Lae-Lae. Niatan saya sebenarnya mulia, karena ini kali pertama Edo ke Makassar, sementara saya udah sering. Masak enggak nyobain kuliner Makassar sih? Padahal kan banyak ragamnya, dari konro, mie titi, sup kepala ikan, dll..dll…
Begitu nyampe di Konro Karebosi, saya dan Edo baru sama-sama tersadar, bahwa warung ini nggak baby friendly. Coba saja lihat, pengunjungnya buanyak,tempat duduknya terisi semua, musti nunggu sebentar untuk bisa duduk, sudah begitu asapnya mengepul nggak nyaman banget buat si kecil.
Saat bergantian makan pun juga kurang nyaman, karena nggak ada tempat buat jalan-jalan sama Baby Bindi. Keluar warung udah jalan, panas pula kalo siang. Sementara di dalam warung juga padat. Alhasil, konro yang biasanya terasa nikmat kalo saya santap sendiri pas lagi ke Makassar, kali ini berasa sama sekali nggak ada enak-enaknya. Makannya musti buru-buru karena kasian sama Baby Bindi. Hiks..!
Sejak itu kami mencoret daftar kuliner nusantara dalan tiap family trip kami. Mendingan makan di restoran atau di mall yang nyaman buat si kecil.