Ketemu Geisha dan Maiko di Kyoto

Ketika pertama kali ke Kyoto, saya niat banget hunting foto Geisha. Lebih tepatnya penasaran, pengin melihat langsung dari jarak dekat seperti apa sih Geisha itu. Saat itu sampe nongkrong lamaa di Hanami-Koji demi bisa motret Geisha..dan hasilnya zoonnkk. Haduuuhh. Dua malam berturut-turut tanpa hasil. Yang ada ketemu maiko dan geisha jadi-jadian, alias turis Hong Kong berdandan ala geisha lalu jalan-jalan keliling Gion, Kyoto…Hahaa..

Setelah itu saya tak lagi menyisihkan waktu khusus untuk nungguin Geisha lewat. Mendingan jalan santai menikmati lorong-lorong di kawasan Gion yg arsitekturnya khas dengan rumah-rumah kayu yang disebut Machiya. Sekalian ngajak Bindi blusukan mengenal arsitektur rumah tradisional Jepang. Berasa main ke rumah Oshin aja.

Salah satu lorong favorit saya adalah Pontocho Shijo, di pinggir kali. Lorong sempit ini dipadati Machiya yang difungsikan sebagai restoran dan tea house. Cakep buat foto-fotoan.

Pas lagi menyusur lorong, eh ada Maiko keluar dari salah satu pintu. Maiko adalah calon geisha, masih belajar menjadi geisha. Konon, setidaknya butuh lima tahun belajar untuk bisa menjadi geisha.

Maiko keluar ditemani asistennya. Lalu berjalan cepat menyusur lorong searah dengan kami berjalan. Jadilah bisa motretin punggung maiko sampe kemudian ia masuk ke salah satu restoran untuk bekerja.

33864193_10214563295189232_4524791356786212864_n.jpg33992583_10214563295549241_6436444737179222016_n.jpg

Gara-gara ketemu maiko itu, dilanjut buru-buru ke Hanami-Koji, area yg banyak Geisha-nya. Sore-sore begini, sekitar jam 17.30-18.00 adalah best time to meet Maiko and Geisha. Jam-jam segitu mereka siap menuju restoran/tea house untuk bekerja.

Nah, beneran. Di Hanami-Koji udah banyak turis dengan kamera di tangan. Kali ini saya kembali beruntung, berpapasan dengan Geisha, jarak dekat jadi bisa motret dari depan.

Untuk memotret Maiko atau Geisha ini ada etikanya. Jangan menghalangi jalan mereka, apalagi memintanya berhenti untuk foto, karena mereka sedang terburu-buru ke tempat kerja.

33994002_10214563295629243_6868146455744348160_n.jpg

Oiya, bagaimana saya bisa mengenali apakah ia Geisha atau Maiko? Gampang saja, menurut yg pernah saya baca, bisa dikenali dari pakaiannya. Maiko biasanya menggunakan hiasan bunga-bunga di sanggulnya. Ikatan kimono bagian belakang biasanya juga menjuntai panjang. Sementara Geisha sanggulannya tanpa asesoris bunga dan ikatan kimononya pendek saja sebatas pinggang.

Ada yg pengin hunting foto Maiko atau Geisha di Kyoto?

belajar multikultur sejak dini


buat saya, traveling itu bukan sekedar dolan tapi yang lebih penting adalah experience different culture. pada saat kita melakukan perjalanan, tinggal di suatu daerah yang memiliki kultur yang berbeda dengan kita, pasti mau tak mau harus beradaptasi dengan kultur lokal. meski cuma untuk beberapa hari saja.

saya dan baby bindi beruntung bisa tinggal di jogja, di kota yang multikultur. mau ketemu orang dari beragam etnis yang ada di indonesia, bisa dilakukan di jogja karena banyak putra daerah yang melanjutkan studi di kota pelajar jogja. selain itu, di jogja juga terdapat asrama-asrama mahasiswa dari semua propinsi. jadi bisa dibilang jogja adalah miniatur indonesia.

untungnya lagi, saya tinggal di dekat kraton, dekat tamansari di mana banyak turis-turis asing lewat depan rumah. ada turis rombongan pake bus-bus besar, ada pula turis bergaya backpacker yang menggendong ransel dan menenteng buku lonely planet.

sore-sore, saat lagi di luar rumah sama baby bindi, kadang ketemu turis-turis itu lewat. beberapa menyapa dan say hello sama baby bindi. saya lantas mengajari baby bindi untuk membalas sapaan mereka. buat saya, ini adalah salah satu pelajaran multikultur yang bagus dikenalkan pada si kecil. dengan sering bertemu orang dari beragam etnis, niscaya kelak ia akan menjadi anak yang nggak etnosentris dan mendukung keberagaman. amiinn…!

oh ya, selain di jogja, tempat belajar mengenalkan multikultur pada anak adalah di bali, terutama ubud. hingga umur setahun saya sudah dua kali mengajak baby bindi berlibur ke bali. kami tinggal di bungalow murah dan nyaman, di mana hampir semua yang menginap adalah bule-bule. biasanya mereka juga mengajak keluarga dan anak yang masih kecil. nah, baby bindi bisa main-main sama mereka.

foto di atas adalah salah satu dari aktivitas baby bindi saat berlibur di ubud. kolam renang yg tersedia di depan bungalow kami, ternyata jadi salah satu tempat untuk berkenalan dengan kultur lain. begitu nyebur di kolam, bindi dan anak bule perancis itu langsung akrab meski tidak saling berkata-kata.

lihatlah bahasa tubuh mereka. biar kulit dan rambut berbeda warna, tapi mereka bahagia bisa saling mendekat.