belajar multikultur sejak dini


buat saya, traveling itu bukan sekedar dolan tapi yang lebih penting adalah experience different culture. pada saat kita melakukan perjalanan, tinggal di suatu daerah yang memiliki kultur yang berbeda dengan kita, pasti mau tak mau harus beradaptasi dengan kultur lokal. meski cuma untuk beberapa hari saja.

saya dan baby bindi beruntung bisa tinggal di jogja, di kota yang multikultur. mau ketemu orang dari beragam etnis yang ada di indonesia, bisa dilakukan di jogja karena banyak putra daerah yang melanjutkan studi di kota pelajar jogja. selain itu, di jogja juga terdapat asrama-asrama mahasiswa dari semua propinsi. jadi bisa dibilang jogja adalah miniatur indonesia.

untungnya lagi, saya tinggal di dekat kraton, dekat tamansari di mana banyak turis-turis asing lewat depan rumah. ada turis rombongan pake bus-bus besar, ada pula turis bergaya backpacker yang menggendong ransel dan menenteng buku lonely planet.

sore-sore, saat lagi di luar rumah sama baby bindi, kadang ketemu turis-turis itu lewat. beberapa menyapa dan say hello sama baby bindi. saya lantas mengajari baby bindi untuk membalas sapaan mereka. buat saya, ini adalah salah satu pelajaran multikultur yang bagus dikenalkan pada si kecil. dengan sering bertemu orang dari beragam etnis, niscaya kelak ia akan menjadi anak yang nggak etnosentris dan mendukung keberagaman. amiinn…!

oh ya, selain di jogja, tempat belajar mengenalkan multikultur pada anak adalah di bali, terutama ubud. hingga umur setahun saya sudah dua kali mengajak baby bindi berlibur ke bali. kami tinggal di bungalow murah dan nyaman, di mana hampir semua yang menginap adalah bule-bule. biasanya mereka juga mengajak keluarga dan anak yang masih kecil. nah, baby bindi bisa main-main sama mereka.

foto di atas adalah salah satu dari aktivitas baby bindi saat berlibur di ubud. kolam renang yg tersedia di depan bungalow kami, ternyata jadi salah satu tempat untuk berkenalan dengan kultur lain. begitu nyebur di kolam, bindi dan anak bule perancis itu langsung akrab meski tidak saling berkata-kata.

lihatlah bahasa tubuh mereka. biar kulit dan rambut berbeda warna, tapi mereka bahagia bisa saling mendekat.

Advertisements

why we travel


Percaya nggak percaya, waktu saya pamitan mau ngajakin Baby Bindi jalan-jalan ke Bali, mbok Nem nangis loh. Katanya, nggak tega ngebayangin Bindi diajak pergi naik pesawat trus di Bali cuma jalan dari satu tempat ke tempat lain. Nggak kebayang kayak apa nanti capeknya Bindi. Pasti nanti sepanjang jalan cuma rewel.

Saya nyengir dan tidak memberi komentar apapun. Saya memaklumi jika mbok Nem, yang orang kampung itu, tidak mengenal konsep “travel will teach us how to struggle in life”. Bagi dia, traveling itu cuma buang uang dan bikin capek. Nggak ada untung-untungnya sama sekali. Harap maklum, itulah konsep traveling yang dipahami oleh masyarakat agraris seperti mbok Nem yang juga belum prnah naik pesawat.

Padahal, buat saya, ngajakin traveling Baby Bindi sejak dini memberikan banyak experience yang tak ternilai harganya. Nggak cuma buat bocahnya, tetapi juga buat kami berdua sebagai orang tuanya.

Oke, mari kita urai satu per satu kira-kira benefit apa yang bakal kita dapat dengan mengajak plesiran si kecil.

For Baby:

  • Belajar mengenal lingkungan baru yang lebih luas. Itu pasti dong. Saya masih ingat ekspresi kagetnya Bindi ketika malam itu di kamar hotel di Legian Bali saat dia terjaga minta mimik. Matanya langsung melihat sekeliling, mungkin merasa asing tidur di tempat yang nggak biasanya. Juga ketika dua hari kemudian kami pindah hotel di Ubud, dia lihat sekeliling kamar. Kok beda lagi ya, mungkin begitu pikirnya. Tapi karena ada Emak dan Bapaknya, Bindi pun tenang, nggak protes meski keheranan dengan suasana baru yang dilihatnya.
  • Bertemu dengan wajah-wajah baru (multietnik). Saya sengaja mengajak Bindi ke Bali, supaya banyak ketemu bule. Sebenarnya di Jogja juga sesekali liat bule lewat depan rumah, tapi kan nggak sebanyak di Bali. Nah, di Bali kesempatan untuk berada di antara bule -bahkan menjadi satu-satunya turis lokal- sangat mungkin. Di hotel tempat kami menginap di Ubud, malah cuma kami yang turis domestik. Serunya lagi, Bindi nggak takut liat badan-badang bongsor para bule. Malah bisa senyum-senyum juga ketika mereka say hello. Dengan mengenalkan ras dan etnik lain yang dilihat Bindi, saya berharap dia bisa bertumbuh menjadi manusia yang menghargai keberagaman.
  • Mencoba berbagai alat transportasi. Target utama saya saat liburan ke Bali adalah ngajarin Bindi naik pesawat. Penasaran aja, apakah Bindi bakal enjoy selama penerbangan atau malah nangis histeris seperti yang sering saya lihat di pesawat. Banyak loh, anak-anak kecil yang jadi rewel begitu masuk ke badan pesawat, terutama sebelum take off. Mungkin karena tekanan udaranya rendah, terus biasanya juga gerah karena AC-nya belum jalan. Alhamdulillah…bindi malah hore-hore tuh di pesawat, sampe dituduh pramugari udah biasa terbang.
  • Menguji stamina dan daya tahan si kecil. Namanya juga lagi traveling, nggak sempet deh bikin makanan bubur dan sayuran segar seperti di rumah. Selama traveling Bindi cuma makan baby food Heinz dan buah pisang. Susu botolnya pun enggak hangat lagi, karena hanya dicairkan dengan air mineral botolan. Maafkan Emakmu ya, Nduk. Tapi, beginilah hidup. Adakalanya harus survive dengan kondisi apapun. Syukur alhamdulillah, pencernaan bindi tetep sehat. Pup-nya normal, perutnya nggak kembung, dan yang jelas tetap fit selama 4 hari traveling. Bahkan, sampe di Jogja apa yang dikawatirkan mbok Nem tidak terbukti. Bindi tetap hore-hore ceria, nggak lesu kecapekan tuh.

For Parent:

  • Belajar mengelola waktu. Gila deh, sebagian besar waktu saya selama traveling habis untuk ngurusi ‘ritual’-nya Bindi. Nyiapin makanan, mandiin, ganti diapers, mimik susu, menidurkan, dll. Akhirnya, destinasi jalan-jalannya pun juga nggak bisa banyak-banyak. Nggak apalah, toh kami udah biasa ke Bali. Kali ini ke Bali kan buat Bindi, bukan buat saya belanja-belanji.
  • Belajar mengelola emosi. So pasti. Ketika diburu ribet ngurusin Bindi, badan capek, bobok gak bisa nyenyak…kalau nggak belajar bersabar pasti acara traveling jadi runyam karena uring-uringan. Nah, kalo udah uring-uringan, kasihan si kecil kan? Jadi, kalo kita bisa menahan emosi selagi traveling dan tetap fun meski ribet, niscaya akan semakin mendewasakan kehidupan rumah tangga kami.

Itu tadi hanya sebagian kecil manfaat plesiran bersama si kecil. Oh ya, tapi yang harus digaris bawahi atau cetak miring dan cetak tebal adalah bahwa plesiran bersama si kecil ini dilakukan secara independent dan tidak membawa serta baby sitter.