Bermalam di Borobudur

IMG_1478
Akomodasi rumah trasional Jawa

“Bagaimana kalau kita menginap di hotel yang nggak ada TV-nya lagi?” Tanya saya pada Bindi saat akan memesan akomodasi di kawasan Borobudur. Saya masih ingat bagaimana dia dulu kesepian saat malam datang dan bungalow yang kami sewa di Nusa Lembongan tidak dilengkapi televisi. “Tapi ada kolam renangnya nggak?” Bindi balik bertanya, sepertinya dia bernegosiasi dengan pilihan emaknya. “Nggak ada juga, lagian kita kan akan berenang di sungai,” jawab saya sambil mengingatkan agenda rafting yang akan kami lakukan keesokan harinya.

Lalu saya mengajaknya melihat foto-foto hotel yang akan saya pesan di internet. “Lihat nih, kasurnya digelar di lantai. Jadi kita bobok di bawah…” kata saya sambil memperlihatkan gambar tempat tidur hotel tersebut. “Wow, jadi aku bisa guling-guling ke lantai dong,” Bindi tampak bungah membayangkan bakal melakukan aktivitas seru.

IMG_1524

Begitulah salah satu cara saya untuk melibatkannya dalam pilihan akomodasi yang akan kami tinggali. Apalagi jika pilihan saya adalah akomodasi bergaya tradisional, ndeso, yang unik dan romantis buat orang dewasa, tapi belum tentu disukai anak-anak.

Akomodasi pilihan saya untuk menginap di Borobudur kali ini adalah Omah Garengpoeng yang terletak di desa Wanurejo, dekat Candi Pawon, berjarak sekitar 2 km dari Candi Borobudur. Saya sengaja memilih akomodasi yang di perkampungan, supaya matching dengan tema liburan kali ini yaitu jelajah desa dan menyusur sungai (arung jeram).

Reservasi saya lakukan langsung lewat website Omah Garengpoeng karena di beberapa situs reservasi yang biasa saya kunjungi hanya tersedia single room. Padahal saya sudah kadung jatuh cinta dengan guest house ini. Lokasinya sesuai dengan yang saya inginkan dan tema rumah tradisional Jawa yang ditawarkan juga akan memperkaya perjalanan kami blusukan ke pedesaan. Sambil berharap-harap cemas, saya mengisi formulir reservasi yang disediakan di website Omah Garengpoeng. Saya memesan double/triple room untuk 2 dewasa dan 1 anak.

IMG_1482
bungalow rumah tradisional Jawa

Rupanya dewi fortuna masih berbaik hati pada kami. Keesokan harinya saya mendapat email balasan dari Omah Garengpoeng bahwa kamar yang kami inginkan masih available. Kami juga ditawari apakah hanya memesan kamar (room only) atau termasuk sarapan. Tentu saja kami menginginkan sarapan sekalian, karena esok paginya kami sudah ada agenda rafting, jadi nggak punya cukup waktu untuk wisata kuliner di luar hotel. Kami mendapat email konfirmasi lagi mengenai biaya kamar sebesar 750rb sudah termasuk sarapan, snack, tea/coffee, makan malam, dan sepeda.

Saya terbelalak membaca informasi tersebut. Ternyata nggak sekedar dapat sarapan, tapi juga makan malam. Mantap banget. Dan yang lebih penting, juga ada fasilitas sepeda yang bisa kami gunakan untuk njajah desa milang kori, sepedaan blusukan ke perkampungan. Edo langsung menyiapkan helm sepeda kami bertiga untuk dibawa serta. Karena kami masih ragu-ragu apakah juga tersedia sepeda anak, maka sepeda Bindi pun ikutan masuk ke dalam mobil. Soalnya nggak seru kalo Bindi hanya nangkring di boncengan kan. Dan Bindi juga lebih suka jika menggenjot sepedanya sendiri.

Kami mendapat bungalow nomer 2 di sisi pendopo, di halaman luar. Ada 3 bungalow berjejer di sisi pendopo, sepertinya bungalow khusus double room. Sementara di halaman belakang terdapat sejumlah bungalow dengan ukuran yang lebih kecil untuk single room.

IMG_1471
Welcome drink

Kedatangan kami siang itu disambut dengan 3 gelas jus pepaya  dan dua jenis kue basah. Warna oranye yang segar membuat kami segera meneguknya sampai ludes. Maklum, habis melakukan perjalanan yang lumayan panas nih. Perjalanan Jogja – Borobudur kami tempuh lewat jalur Kulon Progo dan sempat singgah di Sendang Sono yang saat itu super padat oleh peziarah. Kami juga sempat mampir ke desa Banjaroya untuk menikmati pemandangan hijau alam pedesaan.

Sore itu kami hanya leyeh-leyeh di bungalow, nggak bisa sepedaan karena hujan. Bindi mengisi waktu dengan menggambar dan main game The Lion Guard yang baru saya donlot aplikasinya.

IMG_1497 (1)
Dinner

Sekitar pukul 7 malam, sesuai permintaan, hidangan makan malam disajikan untuk kami di pendopo. Menunya sungguh menggoda selera. Soto, sate jamur, telor dadar, dan kentang bumbu balado. Masakan Indonesia yang lezaat dan sehat. Oiya, segelas jus sirsak juga disajikan untuk kami bertiga. Lagi-lagi saya suka sama jus bikinannya, jus ala smoothies dengan porsi buah yang lebih banyak daripada campuran airnya.

Suasana pukul 7 malam sudah begitu sunyi di dusun Wanurejo. Jalan utama di depan guest house tampak sepi, gelap, tidak ada lampu penerang jalan. Suara jengkerik, garengpung, dan kodok mulai terdengar bersahut-sahutan. Irama khas pedesaan yang menjadi kemewahan tersendiri bagi kami yang tinggal di kota.

IMG_1502 (1)
Menikmati malam

Selepas makan malam, kami duduk di teras bungalow, menikmati suasana malam yang masih basah oleh gerimis. Dari speaker yang dipasang di pendopo, mengalun perlahan tetabuhan gending Jawa. Irama gamelan yang mendayu berpadu dengan suara alam pedesaan membuat kami rileks. Dan sebentar kemudian kantuk pun tiba. Haha, padahal biasanya baru merem di atas jam 12 malam.

Esok paginya kami dibangunkan oleh kokok ayam jantan dan cuitan burung yang bersahutan. Terdengar begitu merdu di telinga, berbeda dengan alarm ponsel yang biasa kami aktifkan di rumah.”Yuk, bangun, kita sepedaan pagi ini…” saya membangunkan Bindi tanpa kerepotan. Ia langsung beranjak dari kasur begitu mendengar kata sepedaan.

IMG_1506 (1)

Meskipun pagi ini kami sudah ada agenda rafting, tapi wajib hukumnya untuk tetap melungakan waktu bersepeda menyusur desa. Agenda sepedaan sore kemarin sudah digagalkan hujan. Pagi ini lagit begitu cerah, tak ada alasan untuk malas-malasan menyusur desa Wanurejo yang asri. Sepeda juga sudah disediakan, tinggal milih yang cocok. Bahkan juga tersedia sepeda lipat anak, sehingga sepeda Bindi yang ada di bagasi mobil tak jadi diturunkan. Mendingan nyobain sepda lain, sekalian melihat kemampuan Bindi bersepeda dengan sepeda yang baru dikenalnya.

Selepas sepedaan yang hanya sebentar, karena jam 8 harus sudah meluncur ke base camp rafting, kami menikmati suguhan sarapan yang menyehatkan. Pilihan menu sarapan ini sudah kami pesan semalam, ada nasi kuning dan nasi goreng. Kami memilih nasi kuning. Tiga porsi nasi kuning terhidang di pendopo didampingi tiga gelas jus semangka yang segar. Sekali lagi saya memuji jus-nya yang segar dan natural.

Menu sehat sarapan pagi ini menjadi energi bagi kami untuk rafting. Hehe..!

 

 

 

 

 

Advertisements

One thought on “Bermalam di Borobudur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s