Pengalaman Pertama Snorkeling di Lembongan

Jpeg
Menyewa boat untuk snorkeling

Ide piknik ke laut ini muncul sejak memperhatikan Bindi makin suka berenang. Kami tidak memberikan les khusus berenang, hanya mengikuti kegiatan ekskul seminggu sekali. Selama satu semester mengikuti ekskul renang, kami melihat Bindi punya keberanian bermain dengan air. Berani diajak berenang di kedalaman 1,50m meski tinggi badannya baru 1,20m. Ia berani melompat, menyelam, dan bergerak maju. Memang sih, ia belum konsisten berenang dengan gaya yang benar alias masih bergaya iwak kali. Tapi bagi kami yang penting justru semangat dan keberanian yang dimilikinya.

Maka ketika menjelang liburan akhir tahun tiba, kami sepakat menetapkan tema piknik ke laut, ke Nusa Lembongan. Supaya bisa berenang ke tempat yang lebih luas lagi, sembari melihat ikan-ikan yang ikutan berenang. Tiga minggu sebelum liburan tiba, kami rutin mengajak Bindi berenang di kolam dengan menggunakan fin dan snorkel.

Jpeg
Peralatan snorkel dari Operator

Kami mengikuti paket tour (snorkeling trip) selama setengah hari, mulai pukul 09.30 hingga 13.30. Ada beberapa paket watersport yang ditawarkan, kami memilih paket 3 spot snorkeling. Karena masih buta kawasan Lembongan, spot snorkelingnya manut alias ngikut apa kata operator. Yang penting nyaman buat si kecil. Kalaupun nanti di tengah jalan dia bosen, nggak apa juga balik ke darat lagi.

Kami juga menyewa satu private boat, nggak bergabung dengan turis lain, supaya lebih fleksibel. Biayanya per orang 300rb dan gratis untuk anak. Jadi kami berdua membayar 600rb. Harga tersebut sudah termasuk sewa perlengkapan snorkeling (mask, fin, snorkel) dan pemandu. Bindi menggunakan peralatan snorkel yang dimilikinya, karena merasa lebih nyaman.

Pengalaman pertama snorkeling di laut memang tak seindah yang kami bayangkan. Boro-boro motret saat berenang bersama ikan-ikan, yang ada kami masih beradaptasi dengan perairan laut yang pagi itu rasanya dingiinn banget. Cuaca di bulan Desember memang kurang pas buat snorkeling ya. Matahari malas-malasan bersinar, sehingga air laut pun terasa lebih dingin.

Oiya, pemandu juga menyediakan pelampung dan ban. Sehingga ketika Bindi malas berenang karena kedinginan, ia tinggal memeluk ban saja. Haha…!

Selain beradaptasi dengan air laut, serbuan jelly fish juga sempat bikin kalang kabut. Bindi menangis ketika lengannya tersengat jelly fish. Kami lantas mengangkatnya ke perahu. Lumayan juga nih bengkaknya. Begitulah, snorkeling trip pertama kali ini. Baru 2 spot, Bindi sudah minta ke darat karena takut disengat jelly fish lagi.

Meski nggak terlalu sukses karena masih banyak adaptasi, tapi piknik ke laut ini tetap seru. Apalagi sore sebelumnya Bindi menghabiskan waktu mandi di laut dan mencari kerang.

Jpeg
Mencari kerang di tepi laut

Tips snorkeling pertama bersama si kecil:

  1. Waktu terbaik untuk snorkeling atau diving di Bali antara antara bulan Mei – Oktober. Saat matahari bersinar cerah, nggak banyak turun hujan pula. Pada bulan-bulan tersebut, katanya, juga nggak banyak jelly fish.
  2. Siang hari sepertinya lebih nyaman buat snorkeling dari pada pagi-pagi.
  3. Gunakan pakaian watersport yang menutup sebagian besar tubuh si kecil, untuk menghindari sengatan jelly fish.
  4. Sedia selalu first-aid. Saat Bindi tergores karang, kami agak kesulitan mencari Betadin di Lembongan. Nggak ada apotik.
Advertisements

One thought on “Pengalaman Pertama Snorkeling di Lembongan

  1. Aaaah Bindi, kasian banget liat lukanya di foto terakhir.
    Semoga ga kapok ya Nak. Btw, tante aja kalo snorkeling memilih pake kacamata renang biasa aja, soalnya suka keminum:D

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s