Drawing Trip ke Candi Sambisari

Jpeg
Lagi kusyuk nyekets

Bindi suka menggambar. Hobi itu mulai kami sadari sejak Bindi berusia sekitar 4 tahun.  Hasil karyanya kemudian ditempel di dinding rumah. Sampe-sampe dinding rumah kami penuh dengan tempelan kertas-kertas gambaranya.

Sekali waktu kami mengajaknya menggambar di ruang terbuka, sekalian jalan-jalan di hari Minggu pagi. Kami meluncur ke Candi Sambisari di daerah Kalasan dengan membawa kertas, pensil, dan alas gambar.

Kami tidak memaksanya menggambar candi, tapi sekedar mengajaknya menggambar di lokasi wisata yang sudah pasti akan memberikan nuansa yang berbeda. Saya pengin tahu, apakah ia akan tetap asyik menggoreskan pensilnya seperti saat di rumah, ataukah malah jadi malu-malu karena banyak orang lalu-lalang.

Minggu pagi di Candi Sambisari  juga dipadati wisatawan domestik. Kebanyakan warga sekitar Jogja aja karena Candi Sambisari memang tidak sepopuler Prambanan dan Ratu Boko meski hanya berjarak sekitar 2 km. Candi Sambisari juga tidak terlihat dari tepi jalan, karena lokasinya di tengah sawah dan berada di kedalaman sekitar 6.5 meter. Selama ratusan tahun Candi ini terkubur letusan gunung Merapi dan baru ditemukan oleh petani yang mencangkul sawah pada tahun 1996.

Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp 5.000 untuk kami bertiga, 2 tiket dewasa seharga Rp 2.000 per orang dan Rp 1.000 untuk turis cilik, kami mencari lokasi yang agak teduh untuk menggambar. Maksud hati mencari pohon rindang, tapi karena lokasi candi berada di kedalaman, mau nggak mau ya harus turun ke candi.

Jpeg
Mojok di Candi

Lalu kami pun lesehan dan merapat ke dinding candi untuk berlindung dari sinar matahari pagi. “Udah tahu mau nggambar ke candi, tapi kok ya lupa nggak bawa tikar ya..,” kata saya menyadari kealpanan ini. Sebenarnya di mobil ada matras, tapi ternyata juga malas balik ke lokasi parkiran. Ya sudah lah, klesotan aja.

Bindi dan Bapaknya kemudian mulai asyik menggambar. Bapaknya serius menggambar pucuk candi dan detil ukirannya, sementara anak wedok malah menggambar princess. Haha..!

Tentu saja kami juga menyelingi kegiatan Drawing Trip ini dengan rekreasi keliling candi. Meskipun sebelumnya Bindi sudah beberapa kali kami ajak ke Candi Sambisari, tapi ia tak bosan berlarian naik turun tangga candi. Mengamati serta menyentuh langsung berbagai arca dan relief di dinding candi juga merupakan pengalaman yang menyenangkan baginya.

Saat melihat arca Durga Mahesasuramardini, tiba-tiba Bindi berseru ingin menggambarnya. “Buuk, aku mau nggambar patung ini..!” Entah kenapa Bindi tertarik dengan arca Durga dan bukan arca Ganesha yang sebelumnya dilihat. Mungkin karena Durga adalah sosok dewi, perempuan dengan payudara yang menonjol. Mungkin juga karena Durga digambarkan bertangan delapan dan tengah berdiri di atas kerbau. Atau barangkali ia bisa menangkap citra kesaktian yang terpancar lewat arca Durga. Perempuan sakti bertangan delapan yang mengalahkan kerbau Asura jelmaan raksasa jahat pengganggu khayangan.

Kami pun menghentikan langkah, mengeluarkan kertas dan pensil yang sudah masuk tas, lalu duduk klesotan di depan patung Durga Mahesasuramardini.

Dan inilah hasi sketsa Dewi Durga ala Bindi.

Jpeg
Karya skets Minggu pagi

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s