no shower, bathup please…

Bath time is fun

Begitu punya momongan dan ngajakin Baby Bindi traveling, ternyata saya harus merombak kebiasaan saya dalam mencari akomodasi/hotel di suatu daerah. Biasanya, saya nggak pernah booking hotel duluan jika bepergian di Tanah Air. Saya lebih suka beli voucher hotel di bandara kota tujuan karena harganya seringkali lebih murah. Lumayan kan irit 50ribu – 100ribu, bisa buat ongkos taksi dari bandara. Kalau di bandara nggak ada agent hotel, barulah saya menelpon sejumlah hotel yang daftarnya sudah saya siapkan duluan. Buat saya yang sudah terbiasa jalan sendiri, hotel jenis apapun nggak masalah, yang penting lokasinya nggak terlalu jauh dari target kunjungan saya ke kota tersebut.

Sekarang, jika plesiran bareng Bindi, reservasi beberapa hari sebelum hari H hukumnya jadi wajib. Kebersihan dan kenyamanan kamar hotel juga menjadi prioritas. Bahkan luasan kamar juga sering saya pertimbangkan supaya Bindi juga bisa main-main di kamar hotel sambil disuapin makanannya. Fasilitas hot water itu juga wajib karena Bindi belum bisa mandi dengan air dingin kecuali jika lagi berenang di kolam terbuka. Belakangan, saya punya request khusus, minta kamar dengan bathup bukan shower.

Permintaan terakhir ini berdasar pengalaman banyaknya shower di kamar hotel yang kadang semburan airnya nggak bisa diatur. Malah, saya pernah menginap di kamar hotel bintang tiga tapi semburan airnya terlalu kenceng sehingga badan saya berasa kayak orang ditampar sewaktu mandi. Ampun deh! Saya nggak mau bermain spekulasi lagi jika ngajak Baby Bindi. Bathup jadi pilihan utama. Atau malah bak mandi tradisional, seperti di rumah saya, is better than shower.

Dan bathup is the best karena akan lebih nyaman buat si kecil. Apalagi jika disiapin mainan air teman mandi. Mandi pun jadi kegiatan yang menyenangkan buat si kecil meski sedang traveling nun jauh di rantau.

Tuntutan fasilitas ini sudah pasti berimplikasi pada budget. Anggaran kamar hotel per malam jadi membengkak dua kali lipat dari tarif hotel yang biasa saya inapi jika jalan sendiri. Jika tadinya saya merasa nyaman dengan kamar seharga 150an ribu (kalau di Ubud -Canderi- malah cuma 50ribu), sekarang saya harus mencari kamar bertarif rata-rata 400ribu untuk mendapatkan kenyamanan itu. Apa boleh buat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s