baby travel gear


Baby Carry Out (BCO)

Inilah travel gear pertama yang dimiliki Baby Bindi. Saya membelinya sekitar 2 minggu sebelum kelahiran Bindi. BCO termasuk barang yang kala itu saya anggap sebagai ‘must buy’ selain kebutuhan standar newborn. Lucu banget ngebayangin ada bayi mungil yang terselip di dalam keranjang, lalu diletakkan di jok mobil belakang, dan saya menjagai di sisinya. Belum-belum saya udah ngebayangin Bindi bakal sering diajak jalan-jalan nih.

BCO akhirnya kepake waktu Bindi keluar dari rumah sakit beberapa hari setelah kelahirannya. Yang kedua, seingat saya, dipake waktu waktu mau imunisasi. Setelah itu, nggak pernah dipake lagi karena Bindi mulai menunjukkan gelagat nggak nyaman di keranjangnya. Ya wis, terpaksalah BCO berubah fungsi, buat nyimpen selimut, mainan, dll. Untung ada temen yang lahirin baby 3 bulan kemudian. Jadilah BCO dihibahkan untuk temen saya. Saya bilang padanya, “ini buat bobokin baby saat pulang dari RS.”

Stroller
Belum genap usia 2 bulan, saya sudah bernafsu membelikannya stroller. Waktu itu Edo kurang setuju, katanya entar aja nunggu agak gede dikit. Ternyata stroller itu beragam jenisnya. Ada stroller yang emang khusus buat newborn atau biasa disebut kereta bayi. Stroller jenis ini masa kepakenya palingan cuma 3-4 bulan. Setelah baby mulai gede, apalagi bisa duduk sendiri, jadi kelihatan aneh kalo pake kereta bayi. Ada juga stroller yang didisain bisa digunakan sebagai kereta bayi maupun untuk baby yang sudah bisa duduk. Tapi menurut pengamatan kami, bentuknya nggak manis.

Setelah menimbang-nimbang, sementara hasrat pengin punya baby stroller udah nggak bisa ditahan lagi, akhirnya kami memilih stroller dewasa. Eh, maksudnya, stroller yang sebenarnya difungsikan untuk baby yang sudah bisa duduk. Tapi sandarannya bisa direbahkan, untuk bobokan, walaupun tidak ada list tepi yang melindungi sisi kanan kiri bayi.

Ternyata Bindi emang kelihatan mungil banget dengan stroller dewasanya. Stroller-nya jadi terkesan kedodoran. “Wis ra papa, ngunduri gede,” kata saya.

Ketika Bindi masuk 3 bulan dan lehernya sudah cukup kuat menyangga kepalanya sendiri, kami menegakkan sandaran stroller dan mendudukkan Bindi di atasnya. Wow, ternyata udah nggak terlalu kedodoran! Bindi juga kelihatan lebih lucu duduk di stroller dan kedua bahunya diikat sabuk pengaman.

Car Seat
Tak berapa lama setelah Bindi bisa duduk nyaman di strollernya dan mulai banyak diajak keluar buat jalan-jalan, kami menghadiahinya car seat. Ternyata Bindi nggak betah berlama-lama di car seat-nya. Palingan cuma 15 menit duduk udah gelisah minta diangkat dan dipangku. Mungkin karena dia belum bisa duduk nyaman ya, sehingga kalo kelamaan bersandar dan ruang geraknya terbatas, jadi nggak betah. Setelah beberapa kali mendapat penolakan, akhirnya kalo jalan-jalan nggak pake car seat lagi.

Kebetulan car seat ini bisa difungsikan juga sebagai tempat duduk atau kursi goyang yang bisa diayun pelan. Jadi barang ini masih bisa difungsikan untuk ngajarin Bindi duduk atau main-main sambil diayun-ayun.

Car seat ini baru mulai berfungsi sebagai mana mestinya ketika Bindi udah bisa duduk yaitu sekitar umur 6 bulan. Setelah bisa duduk sendiri, ternyata dia jadi nyaman di car seat-nya. Apalagi kalo udah disodorin mainan. Di perjalanan ditanggung nggak bakalan rewel, bahkan kalo kecapean main dia bisa tertidur di car seat loh.

Ransel Gendongan
Meskipun kami bukan pendaki gunung, tapi karena suka jalan-jalan ‘blusukan’…ransel gendongan bayi menjadi impian saya sejak Bindi belum lahir. Mungkin karena saya udah sering lihat backpacker bule yang menggendong bayinya dengan ransel khusus ini, saya pun jadi pengin ikutan.

Rupanya nggak gampang mendapatkan barang ini, apalagi di Jogja. Malah saya nemunya nggak sengaja, ketika main kano dan mampir ke toko outdoor milik temen, eh ada ransel gendongan dipajang. Langsung aja saya beli.

Oh ya, waktu itu Bindi usinya hampir 7 bulan. Badannya masih sedikit tenggelam di ransel itu, tapi dia nyaman di gendongan. Malah kadang-kadang kalo diajak jalan kelamaan jadi ketiduran di atas gendongan.

Usia 7 bulan ternyata usia yang cukup kooperatif buat si baby untuk diajak jalan-jalan ‘blusukan’. Kami pun jadi makin sering ngajakin Bindi jalan. Hampir tiap hari Minggu kami punya jadwal trip with Baby Bindi. Karena saya suka wisata heritage, Bindi pun jadi sering diajakin ke situs-situs arkeologis. Ke Tamansari (hehehe..yang ini dari jaman masih newborn juga udah rutin karena deket rumah), ke candi Ratu Boko, ke candi Prambanan, dan sederet situs lain yang sudah ada dalam agenda Bindi’s trip. (to be continued)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s